BATUAN SEDIMEN
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk akibat
lithifikasi bahan rombakan batuan asal maupun hasil denudasi atau hasil reaksi
kimia maupun hasil kegiatan organisme. Bahan rombakan batuan asal itu batuan
beku, batuan metamorf maupun batuan sedimen yang telah lapuk akibat terkena
matahari, angin, hujan dsb. Selanjutnya tererosi dan tertransportasi kecekungan
pengendapan dan mengeras / membatu / litifikasi.
Batuan sedimen banyak sekali jenisnya dan tersebar sangat
luas dengaan ketebalan dari beberapa cm sampai beberapa km. Ukuran butirnya
bisa dari sangat halus (berukuran lempung) sampai sangat kasar (berukuran >
64 mm, misalnya pada batu breksi atau konglomerat). Dan beberapa proses lagi
seperti media transportasi, struktur sedimen dan lain sebagainya yang cukup
komplek dalam kaitannya dengan batuan sedimen.
Dibanding dengan batuan beku maka batuan sedimen hanya 5
% dari seluruh batuan yang ada dikerak bumi, dari 5 % tersebut 80 % nya adalah
batulempung, 5% nya batu pasir dan 15% nya batuan karbonat / batu gamping.
Namun pelamparan dipermukaan bumi, batuan sedimen
menempati 75 % dari seluruh batuan yang ada dan 25 % nya adalah batuan beku dan
batuan metamorf .
Penggolongan batuan sedimen secara genetis yang
dikemukakan oleh W.T.Huang 1962 dan Pettijohn 1975 adalah membagi batuan
sedimen menjadi dua yaitu batuan sedimen klastis dan batuan sedimen non
klastis.
Batuan Sedimen Klastis adalah batuan sedimen yang
terbentuk dari pengendapan kembali detritus atau pecahan batuan asal. Dimulai
dari batuan asal yang mengalami pelapukan mekanis (disintegrasi) maupun kimiawi
(dekomposisi), setelah lapuk tererosi selanjutnya tertransportasi menuju
kesuatu cekungan pengendapan. Setelah diendapkan dicekungan, sedimen sebelum
menjadi batu akan mengalami proses diagenesa yakni proses perubahan perubahan
yang berlangsung pada temperatur rendah didalam suatu sedimen. Selama dan
sesudah litifikasi inilah yang merupakan proses yang mengubah suatu endapan sedimen
menjadi batuan sedimen.
Proses Diagenesa meliputi : Kompaksi sedimen akibat tekanan dari berat beban diatasnya,
Sementasi yaitu turunnya material material diruang antar butir sedimen dan
mengikat butir-butir sedimen satu dengan lainnya, Rekristalisasi yaitu peng kristalan kembali suatu mineral dari
suatu larutan kimia yang berasal dari pelarutan material sedimen selama diagenesa
atau sebelum diagenesa, Autigenesis
yakni terbentuknya mineral baru dilingkungan diagenetik, sehingga adanya
mineral tersebut merupakan partikel baru dalam suatu sedimen. Proses diagenesa
juga meliputi Metasomatisme, yaitu
pergantian mineral sedimen oleh berbagai mineral autigenik tanpa pengurangan
volume.
Batuan Sedimen Non klastis adalah batuan sedimen yang
terbentuk dari hasil reaksi kimia atau bisa juga dari hasil kegiatan organisme.
Terbentuk ditempat itu juga dan tidak mengalami transportasi seperti hal nya
batuan sedimen klastis. Reaksi kimia yang dimaksud adalah kristalisasi langsung
atau reaksi organik (seperti penggaraman unsur-unsur laut, pertumbuhan kristal
dari agregat kristal yang terpresipitasi dan replacement).
Batuan Sedimen golongan dedtritus kasar adalah batuan
sedimen dengan ukuran butir yang besar / kasar, diendapkan dengan proses
mekanis. Lingkungan tempat diendapkannya pada umumnya adalah sungai dan danau,
tapi bisa juga laut. Contoh batuannya adalah batu pasir, batu breksi dan batu
konglomerat.
Batuan sedimen golongan detritus halus adalah batuan
sedimen dengan ukuran butir yang halus. Lingkungan tempat diendapkannya pada
umumnya adalah dilaut, dari laut dangkal sampai laut dalam.
Batuan sedimen golongan Karbonat adalah batuan sedimen
dengan komposisi di dominasi / sebagian besar (lebih dari 50 %) terdiri dari
garam garam karbonat, dan mineral kalsit juga kumpulan cangkang molusca, algae,
foraminifera atau lainnya yang bercangkang kapur. Batuan karbonat lingkungan
pengendapannya adalah pasti lingkungan laut. Dari material penyusunnya maka
batuan karbonat dapat dibagi kedalam banyak sekali jenisnya. Proses pembentukan
batuan karbonat ini dapat terjadi secara insitu (ditempat itu juga yang berarti
tidak mengalami transportasi dan termasuk batuan sedimen nonklastis) dan
material materialnya berasal dari larutan yang mengalami proses kimia maupun
biokimia dimana organisme ikut berperan. Pembentukan batuan karbonat dapat
terjadi pula dari butiran rombakan yang mengalami transportasi secara mekanik
dan diendapkan ditempat lain (sedimen klastis). Seluruh proses tersebut berlangsung
pada lingkungan laut, sehingga praktis terbebas dari detritus asal darat.
Batuan sedimen golongan Silika adalah batuan sedimen
yang proses terbentuknya adalah gabungan antara proses organik dan proses
kimiawi untuk lebih menyempurnakanya. Pada umumnya terbentuk ditempat itu juga
(tidak mengalami transportasi) sehingga termasuk batuan sedimen non klastis.
Batuan sedimen golongan Evaporite adalah batuan sedimen
hasil evaporasi / penguapan, terbentuk dilingkungan danau atau laut yang
tertutup dan untuk terjadinya batuan ini syaratnya harus ada air yang memiliki
larutan kimia yang cukup pekat.
Batuan sedimen golongan Batubara adalah batuan sedimen
yang terbentuk dari unsur-unsur organik, yaitu dari tumbuh-tumbuhan, dimana
sewaktu tumbuh tumbuhan itu mati dan ambruk segera dengan cepat tertimbun oleh
suatu lapisan diatasnya yang tebal sehingga tidak memungkinkan terjadinya pelapukan.
Lingkungan terbentuknya batu bara adalah khusus sekali, tetapi pada umumnya diendapkan
pada lingkungan rawa.
Perbedaan yang sangat khas pada kenampakkan antara
batuan sedimen klastis dan non klastis adalah :
Apabila itu sedimen nonklastis maka
pada umumnya komposisi mineralnya adalah mono mineral dan tidak
memperlihatkan perlapisan. Sedangkan apabila itu sedimen klastis maka pada
umumnya akan memperlihatkan perlapisan pada bidang tubuh batuan tersebut.
Perlapisan dapat kita ketahui dari kenampakkan :
·
Adanya perbedaan warna mineral
·
Adanya perbedaan
ukuran besar butir
·
Adanya perbedaan
komposisi mineral
·
Adanya perubahan macam batuan
·
Adanya perubahan struktur sedimen
·
Adanya perubahan kekompakan / kekerasan
Menentukan
Tekstur Batuan Sedimen Klastis
Tekstur batuan sedimen adalah suatu kenampakkan yang berhubungan
dengan ukuran butir, bentuk butir serta susunan butir tersebut (Pettijohn, 1975).
Butiran tersusun dan terikat oleh semen dan masih ada rongga diantara butirnya.
Pembentukan tekstur ini dikontrol oleh media dan cara transportasinya (Jackson,
1970 dan Reineck and Singh, 1975).
Pembahasan tekstur akan meliputi :
1.
Ukuran Butir
Fosil, mineral dan fosil dalam batuan
sedimen dianggap sebagai butiran. Pemerian ukuran butirnya didasarkan pada
skala Wentworth, 1922 :
2.
Pemilahan (sortasi)
Pemilahan adalah keseragaman dari
ukuran besar butir penyusun batuan sedimen, artinya bila semakin seragam ukuran
dan besar butirnya maka pemilahannya semakin baik.
Gambar Pemilahan pada batuan sedimen
1.
Pemilahan baik (well sorted)
2.
Pemilahan sedang (moderate sorted)
3.
Pemilahan buruk (poorly sorted)
3.
Kebundaran (roundness)
Kebundaran adalah nilai membulat atau
nilai meruncingnya butiran, dimana sifat ini hanya bisa diamati pada batuan sedimen
klastik berukuran sedang sampai bongkah.
Gambar Derajad
kebundaran (roundness)
1.
Menyudut (angular)
2.
Menyudut tanggung (subangular)
3.
Membulat tanggung (subrounded)
4.
Membulat (rounded)
5.
Membulat baik (wellrounded)
4.
Kemas (fabric)
Kemas yaitu hubungan antar butiran
didalam batu tersebut. Didalam batuan sedimen klastik dikenal 2 macam kemas,
yaitu :
1.
Kemas terbuka (apabila butiran tidak saling bersentuhan
/ mengambang didalam matrik).
2.
Kemas tertutup (apabila butiran saling bersentuhan satu
sama lainnya).
Menentukan Struktur
Batuan Sedimen Klastis
Struktur sedimen merupakan suatu kelainan dari
perlapisan normal dari batuan sedimen yang diakibatkan oleh proses pengendapan
dan keadaan energi pembentuknya. Pembentukan struktur sedimen ini dapat terjadi
pada waktu bersamaan dengan terbentuknya batuan maupun segera setelah proses
pengendapan (Pettijohn and Potter, 1964 ; RP. Koesoemadinata, 1981).
Berdasarkan genesa / asalnya, struktur sedimen yang
terbentuk dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu : Stuktur sedimen
Primer, Sekunder dan Organik.
1.
Struktur sedimen Primer
Struktur ini terbentuk saat proses
sedimentasi, dengan demikian dapat merefleksikan mekanisme dari pengendapannya.
2.
Struktur sedimen Sekunder
Struktur sedimen sekunder ialah struktur
sedimen yang terbentuk sesudah sedimentasi atau sebelum diagenesa atau pada waktu
diagenesa. Struktur ini merefleksikan keadaan lingkungan pengendapannya,
misalnya keadaan dasr cekungan, lereng dan lingkungan organisnya.
3.
Struktur sedimen Organik
Struktur sedimen organik adalah struktur
sedimen yang terbentuk oleh kegiatan organisme seperti molusca, cacing atau
binatang lainnya.
Menentukan
Komposisi Mineral Batuan Sedimen Klastis
Komposisi mineral dari batuan sedimen klastis dalam
diskripsi / pemeriannya kita amati dalam 3 bagian / 3 komponen yang ada dalam
batu tersebut. Ketiga bagian tersebut adalah :
1.
Fragmen
Fragmen adalah bagian butiran yang
ukurannya paling besar dan dapat berupa pecahan pecahan batuan, mineral, fosil,
atau zat organik lainnya.
2.
Matrik
Matrik adalah bagian butiran yang
ukurannya lebih kecil dari fragmen dan terletak diantara fragmen sebagai massa dasar.
Matrik dapat berupa pecahan batuan, mineral atau fosil yang berukuran lebih
kecil dibandingkan fragmen.
3.
Semen
Semen adalah bukan butiran, tetapi
material pengisi rongga antar butir dan sebagai bahan pengikat diantara fragmen
dan matrik. Bentuknya amorf atau kristalin.
Menentukan
Tekstur Batuan Sedimen Non Klastis
Berbeda dengan tekstur pada batuan sedimen klastis yang
terdiri dari 4 unsur (ukuran butir, pemilahan, kebundaran dan kemas), maka
tekstur pada batuan sedimen non klastis hanya langsung dibedakan menjadi dua yaitu
:
1.
Tekstur Amorf
Terdiri dari mineral yang tidak punya
bentuk kristal atau amorf (non kristalin).
2.
Tekstur Kristalin
Terdiri dari kristal kristal yang
interlocking (saling mengunci) satu sama lain.
Menentukan
Struktur Batuan Sedimen Non Klastis
Struktur batuan sedimen non klastik terbentuk dari
proses reaksi kimia ataupun kegiatan organik.
Macam struktur yang penting pada batuan sedimen non klastik antara lain :
1.
Struktur Fossiliferous : ialah struktur yang
ditunjukkan oleh adanya fosil atau komposisi yang terdiri dari fosil.
2.
Struktur Oolitik : ialah struktur dimana suatu fragmen
klastik diselubungi oleh mineral nonklastik, bersifat konsentris dengan
diameter berukuran < 2mm.
3.
Struktur Pisolitik : sama dengan Oolitik tetapi ukuran
diameternya > 2mm.
4.
Struktur Konkresi : sama dengan Oolitik tetapi tidak
menunjukkan sifat konsentris.
5.
Struktur Cone in Cone : struktur pada batu gamping kristalin
yang menunjukkan pertumbuhan kerucut perkerucut.
6.
Struktur Bioherm : struktur yang tersusun oleh
organisme murni dan bersifat insitu.
7.
Struktur Biostrome : seperti Bioherm tetapi bersifat
klastik / berlapis.
Bioherm dan Biostrome merupakan struktur
luar yang hanya tampak dilapangan.
8.
Struktur Septaria : Sejenis struktur konkresi, tetapi
mempunyai komposisi lempungan. Ciri khasnya adanya rekahan rekahan yang tidak
teratur akibat penyusutan bahan bahan lempungan tersebut karena proses
dehidrasi, kemudian celah celah yang terbentuk terisi oleh kristal kristal
karbonat berukuran kasar.
9.
Struktur Geode : banyak dijumpai pada batu gamping,
berupa rongga rongga yang terisi oleh kristal kalsit atau kwarsa yang tumbuh kearah pusat rongga tersebut.
10. Stuktur
Stylolit : merupakan hubungan antar butir yang bergerigi.
Menentukan Komposisi
Mineral Batuan Sedimen Nonklastis
Komposisi mineral pada batuan sedimen nonklastik sangat
penting di diskripsikan, karena sangat menentukan dalam penamaan batuannya.
Komposisi mineral pada batuan sedimen nonklastik biasanya hanya terdiri dari
satu atau dua macam mineral.
·
Batugamping nonklastik hanya terdiri dari mineral
kalsit dan atau dolomit
·
Batu rijang atau batu chert komposisinya mineral
kalsedon
·
Batu gypsum komposisinya mineral gypsum
·
Batu anhidrite komposisinya mineral anhidrite
Batuan Sedimen Karbonat
Batuan sedimen karbonat adalah batuan sedimen dengan
komposisi lebih dari 55 % terdiri dari mineral-mineral atau garam-garam
karbonat, yang secara umum meliputi batugamping dan dolomit. Proses
terbentuknya batuan karbonat ini dapat terjadi secara insitu berasal dari
larutan yang mengalami proses kimia maupun biokimia dimana organisme ikut berperan,
atau dapat pula batuan karbonat ini terjadi dari butiran rombakan yang
mengalami transportasi secara mekanik lalu diendapkan di tempat lain. Jadi
dapat disimpulkan bahwa batuan karbonat ini dapat dibagi menjadi dua yaitu
Batuan karbonat / Batugamping Nonklastik dan Batugamping Klastik. Seluruh
proses terbentuknya batugamping klastik maupun non klastik tersebut berlangsung
pada lingkungan air laut, jadi praktis bebas dari dedtritus asal darat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar